Detail Berita Utama

Bukan Sekedar Hafalan. Sejarah Tidak Semembosankan Itu!

Bukan Sekedar Hafalan. Sejarah Tidak Semembosankan Itu!

Belum lama ini sempat ramai diperbincangkan mengenai mata pelarajan sejarah yang akan di hapus oleh Kementerian. Mengenai hal tersebut Bayu Ananta (Dosen Prosa Pendidikan Sejarah UPY) menyampaikan, memang sempat ada wacana tentang penyederhanaan kurikulum. Dari penyederhanaan kurikulum tersebut muncul prototype-prototype yang baru dimana mata pelajaran sejarah tidak ada dan digeser menjadi peminatan (tidak wajib). Artinya tidak semua siswa akan mendapatkan mata pelajaran sejarah. Dari situlah menimbulkan banyak reaksi baik berupa protes atau berupa tulisan, dsb.

Menurut Bayu Ananta,“Pelajaran sejarah itu penting, pentingnya karena dari tujuan Pendidikan nasional, sejarah adalah instrumen penting untuk menanamkan karakter dan identitas bangsa.” Misal kita ingin mengetahui siapa kita, berarti kita harus tahu siapa pendahulu atau leluhur kita. Karena memang nilai-nilai karakter itu bisa kita lihat dari suri-suri tauladan para pahlawan. Nah, suri-suri pahlawan itu kita terapkan di kehidupan masa sekarang.”ungkap Bayu saat menjadi narasumber di acara TalkShow Santai Sedjenak (2/10). Sejarah itu melekat di kehidupan kita dan setiap peristiwa selalu memiliki nilai-nilai pelajaran yang bisa kita ambil.”lanjutnya.

Banyak yang mengatakan bahwa pelajaran sejarah itu membosankan dan membuat mengantuk. Belajar sejarah di kelas sering kali membuat siswa mudah bosan dan mengantuk. Hal itu terjadi karena proses pembelajarannya memakai metode menghafal. “Ini sebenarnya salah satu tantangan untuk guru sejarah kenapa sekarang ini ada isu sejarah akan dihilangkan, karena jujur saja dan ini menjadi tantangan untuk semua guru sejarah, bahwa guru sejarah belum bisa menghilangkan stigma itu bahwa siswa-siswa masih menganggap sejarah itu menghafal dan membuat mengantuk.”tegas Bayu.

Sebenarnya sejarah itu menyenangkan dan tidak membosankan jika kita bisa mengemasnya dengan cara yang menyenangkan, guru sejarah harus bisa melihat perkembangan zaman siswa. “Seperti di Program Sarjana Pendidikan Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta menggunakan media pembelajaran berbasis laboratorium, dimana kita tidak hanya mempelajari tetapi kita membuat media pembelajaran sejarah. Dengan begitu metode pembelajaran yang disampaikan juga lebih modern. Makanya stigma membaca maupun menghafal harus kita hilangkan. Kalau Menurut Presiden AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia) guru sejarah harus banyak membaca, menulis, dan banyak jalan-jalan. Kenapa? Agar ketika mengajar itu tidak kering, kita bisa menemukan fakta-fakta baru dan memiliki inspirasi untuk di tularkan kepada siswanya,” imbuh Bayu.

baca juga: http://upy.ac.id/berita/inovasi-pembelajaran-matematika-untuk-anak-tunagrahita