Detail Berita Utama

Mengembangkan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Menuju Society 5.0

Mengembangkan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Menuju Society 5.0

Himpunan Mahasiswa Program Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas PGRI Yogyakarta menggelar Seminar Online dan Call For Papers Virtual 2020 dengan mengangkat tema “Mengembangkan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Menuju Society 5.0”. Seminar Online tersebut dilaksanakan di Studio lantai 5 Gedung Fakultas Saintek dengan Live Streaming youtube upyTV dan via zoom dengan pembicara yaitu Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd (Guru Besar Bidang Manajemen Pendidikan UNESA), Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum (Dosen Budaya Jawa UNY), dan Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si, M.Pd (Pakar Pendidikan Ki Ageng Suryomentaram dan Dosen UPY).

Seminar Online tersebut di buka oleh Ari Wibowo, M.Pd (Kaprodi PGSD), beliau berharap walaupun seminar dilakukan secara virtual ataupun online semoga tidak mengurangi esensi dari pelaksanaan seminar untuk membuka pikiran kita mengenai tantangan-tantangan terutama di bidang Pendidikan di masa yang akan datang dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat di era digital ini. Begitu juga yang disampaikan oleh Darsono, M.Pd (Dekan FKIP UPY), beliau menyampaikan bahwa di perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat mau tidak mau kita dituntut untuk mengikuti perkembangan tersebut. Pengetahuan dan Teknologi adalah upaya untuk meningkatkan harkat, martabat manusia. Namun disisi lain kadang-kadang muncul faktor negatif dari perkembangan pengetahuan dan teknologi tersebut. Karena itulah perlu kita sikapi bagaimana mempersiapkan manusianya. Jika dicermati revolusi industri 4.0 berorientasi pada pengetahuan dan teknologi, sementara konsep society 5.0 berorientasi pada manusia. Artinya bagaimana kita mempersiapkan masyarakat sekarang ini untuk menghadapi revolusi industri 5.0.

Menurut Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd “Menjadi Guru SD itu seperti sebuah pondasi rumah jadi perannya penting karena menyangga rumah, memberi pondasi pada Pendidikan di SMP, SMA bahkan sampai Perguruan Tinggi. Peran guru SD itu tidak tampak karena memang seperti pondasi, yang nampak ya dinding atau atapnya ( SMP, SMA, Perguruan Tinggi). Pendidikan itu tidak hanya mengajarkan kemampuan saja akan tetapi watak atau karakter harus ditanamkan kepada generasi penerus. Karakter sangat dibutuhkan untuk segala aspek kehidupan, dimana kita ketahui bahwa era digital telah masuk ke kehidupan yang menjadikan orang kaya atau sukses yang dibutuhkan adalah kerja keras. Buatlah lingkungan budaya disekitar kita sebaik mungkin untuk menanamkan karakter kepada kita semua karena dengan menciptakan lingkungan dengan budaya yang baik maka karakter juga baik. Tanamkan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia dengan keberagaman yang ada sesuai wilayah masing-masing agar nilai-nilai budaya yang ada dapat di tanamkan kepada generasi penerus. Karakter tidak dapat diajarkan tapi ditularkan dengan keteladanan, oleh siapa? Oleh kita sebagai generasi penerus Bangsa.

Sementara pada materi kedua tentang Pendidikan Karakter Berbasis Budaya, Prof. Endang Nurhayati, M.Hum menyampaikan “Jangan sampai Pendidikan itu tanpa karakter dan Pendidikan harus mengacu pada nilai nilai budaya terutama di Indonesia yang terkenal akan keragaman budaya, berarti kita harus menyesuaikan dengan nilai-nilai kebudayaan yang ada pada daerah kita masing-masing”. Karena dengan budaya tersebut dapat menciptakan tata nilai kehidupan masyarakat yang adiluhung. Prof. Endang juga menjelaskan terkait dengan budaya jawa yaitu nilai-nilai karakter yang terdapat pada kebudayaan jawa dapat ditanamkan melalui tembang macapat seperti dandang gula, pangkur, kemudian melalui sastra, wangsalan, teknologi penanggalan jawa, rerepan dan mantra. Nilai-nilai budaya lokal bisa dijadikan bahan pemasok penciptaan karya sastra dalam lintas masa, dan lintas budaya sepanjang ada yang menggali dan mensosialisasikan Kembali, dengan cara menyeleksi nilai-nilai yang masih relefan dan didukung artefak serta ilmu pengetahuan yang memadai.

Sedangkan pemateri ketiga, Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si, M.Pd menerangkan Kawruh Pamomong Ki Ageng Suryomentaram Di Era Society 5.0 tentang Relevansi dan Implementasi Pada Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Kawruh Pamomong adalah cara mendidik dengan raos atau rasa jiwa agar anak bertindak benar, memiliki cinta kasih dan indah. Menurutnya “Kawruh Pamomong KAS dapat menjadi solusi untuk menumbuhkan raos/rasa jiwa kreatif dan inovatif siswa sekolah dasar melalui pembelajaran pada setiap muatan pelajaran. Hal ini dikarenakan kawruh pamomong KAS merupakan cara untuk menumbuhkan kompetensi sikap pada setiap muatan pelajaran dan tidak mengubah substansi materi setiap muatan pelajaran yang terdapat pada Kompetensi. Kemudian melalui ajakan guru kepada siswa untuk berpikir benar, “sih” dan indah terhadap suatu permasalahan sosial, siswa akan bertindak benar, “sih” dan indah dalam menentukan solusi terbaik pada setiap permasalahan.

baca juga: http://upy.ac.id/berita/pentingnya-peran-orang-tua-guru-dan-lingkungan-sekitar-bagi-anak-autism