Detail Berita Utama

Teater Topy UPY : Mencari Drupadi Dalam Rahim Kartini

Teater Topy UPY : Mencari Drupadi Dalam Rahim Kartini

Perempuan memang selalu dipandang sebelah mata. Dipandang lemah dan seringkali menjadi makhluk tanpa daya. Namun, terlepas dari itu semua perempuan adalah sesosok yang di identikkan dengan kelembutan. Perempuan terbiasa menyertakan perasaan dalam segala hal. Maka dari itu, mereka lebih sering menangis bukan karena lemah, tetapi karena sudah berpura-pura tersenyum walaupun hatinya lemah. Ya, memang terlalu banyak kalimat untuk mendiskripsikan seorang “perempuan”.

Berkaitan dengan hal tersebut, Teater Topy mengadakan pementasan monolog yang dalam acara itu perempuan diangkat sebagai tema, sekaligus bertepatan setelah memperingati hari kartini. Pementasan monolog tersebut diadakan pada hari kamis (25/4) yang bertempat di halaman kampus 1 Universitas PGRI Yogyakarta dengan judul “Tiga Kalung Monolog Perempuan – Mencari Drupadi Dalam Rahim Kartini”.

Dalam pementasan kali ini pun ada sesuatu yang menarik dan berbeda karena dalam pentas ini semua pemain atau pemeran diambil dari golongan wanita. Mulai dari sutradara hingga actor. Sedangkan untuk pementasan tersebut disutradarai oleh Annisa Na. Pemeran-pemeran dalam pementasan itu diantaranya adalah Alya Safira S (mahasiswa prodi PBSI UPY) sebagai Lasti, Rosita Uswatun KP (mahasiswa prodi akuntansi) sebagai Astuti, dan Krisia Monika Rani (mahasiswa prodi manajemen sebagai Lastri. Sementara penulis naskah yang mereka mainkan di tulis oleh WN Naufal, Isryad Nadjib dan Yuli Ratnasari.

Pementasan itu menceritakan keluarga dari Lastri yang mempunyai anak perempuan bernama Lasti, lalu Astuti sendiri merupakan anak dari Lasti. Astuti adalah wanita remaja jaman dahulu yang berkehidupan selalu dalam kekurangan, bahkan soal pangan. Sampai pada akhirnya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencukupi kehidupannya hingga suatu hari rela menjual harga dirinya di usia yang masih tergolong anak-anak dan harus merasakan pahitnya kehidupan dengan pekerjaan hina tersebut.

Cerita ini tentunya sangat menginspirasi, terlebih bagi kaum hawa. Menjadi pelajaran berharga, bahwa sebenarnya mereka terlalu mahal hanya untuk dibandingkan dengan harga makanan. Pesan untuk wanita wanita di jaman sekarang yang hidup sudah serba berkecukupan, jagalah diri kalian, seorang wanita berharga tidak akan membuat dirinya tenggelam ke dalam gemerlapnya kehidupan. Berikanlah harta terbesarmu hanya kepada suami mu, bukan pacar pacarmu. Dan menjadi wanita bijak yang cerdas dalam segala hal.

baca juga: http://upy.ac.id/berita/semarak-hardiknas-aktualisasi-nilai-nilai-edukasi-di-era-revolusi-industri-40