Mahasiswa KKN UPY Tanam 100 Bibit Akar Wangi, Perkuat Mitigasi Longsor di Lereng Samigaluh

Ancaman tanah longsor di kawasan perbukitan Kapanewon Samigaluh kembali menjadi perhatian. Menyikapi kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 41 Kelompok 20 Universitas PGRI Yogyakarta menginisiasi program mitigasi bencana berbasis lingkungan di Padukuhan Tulangan, Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.

Pada 26 Januari 2026, mahasiswa bersama Karang Taruna Padukuhan Tulangan menanam 100 bibit akar wangi (vetiver) di sejumlah titik lereng yang dinilai paling rentan terhadap erosi dan longsor. Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pembangunan desa tangguh bencana.

Padukuhan Tulangan yang berada di wilayah perbukitan memiliki kontur tanah miring dengan curah hujan relatif tinggi saat musim penghujan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko erosi dan longsor, sehingga diperlukan langkah preventif yang berkelanjutan.

Akar wangi dipilih karena memiliki sistem perakaran yang kuat dan tumbuh vertikal ke bawah hingga kedalaman tertentu. Karakter ini efektif dalam mengikat tanah, mengurangi laju erosi, serta membantu menstabilkan struktur lereng. Di berbagai wilayah, vetiver telah terbukti menjadi solusi konservasi tanah berbasis vegetatif yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Kegiatan penanaman dilakukan secara gotong royong antara mahasiswa, perangkat padukuhan, dan anggota Karang Taruna. Kolaborasi ini mencerminkan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung dan berkelanjutan.

Dukuh Tulangan, Budiyanto, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN yang dinilai relevan dengan kebutuhan wilayahnya.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN UPY 41 Kelompok 20. Wilayah kami berada di lereng perbukitan yang rawan longsor, sehingga penanaman akar wangi ini menjadi langkah preventif yang sangat baik. Kami berharap tanaman ini dapat dirawat bersama dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.

Ketua Karang Taruna Padukuhan Tulangan, Kris Hindarto, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan desa.

“Sebagai generasi muda, kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat lingkungan desa. Kegiatan ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih peduli terhadap kondisi alam sekitar. Kami siap mendukung dan merawat tanaman akar wangi ini agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua KKN UPY 41 Kelompok 20, Farroza Titis Ramazaan, menekankan bahwa pelibatan Karang Taruna merupakan strategi keberlanjutan program.

“Kami tidak hanya ingin menjalankan program selama masa KKN, tetapi juga memastikan adanya keberlanjutan setelah kegiatan ini selesai. Dengan melibatkan Karang Taruna sebagai generasi penerus desa, kami berharap kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dapat terus tumbuh dan berkembang,” jelasnya.

Selain berfungsi sebagai tanaman konservasi untuk mitigasi bencana, akar wangi juga memiliki potensi ekonomi. Tanaman ini dapat diolah menjadi produk bernilai jual seperti minyak atsiri dan aromaterapi, sehingga membuka peluang pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. Langkah sederhana menanam 100 bibit akar wangi di lereng perbukitan Padukuhan Tulangan menjadi simbol komitmen membangun ketahanan desa dari akar rumput. Upaya ini diharapkan menjadi awal penguatan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana berbasis lingkungan, demi terciptanya desa yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.