PPG UPY Gelar Workshop Ecoprint di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini
Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Semangat tersebut diwujudkan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG), Fakulta…
oleh Humas UPY

Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Semangat tersebut diwujudkan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Workshop Ecoprint untuk Meningkatkan Keterampilan Ekologi Siswa Sekolah Dasar” di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, Malaysia, pada 18 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti siswa kelas IV, V, dan VI SIKK. Melalui workshop tersebut, siswa diajak mengenal pentingnya menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Program ini dirancang untuk mendukung misi kelima SIKK, yaitu membentuk peserta didik yang berkarakter, menghargai keberagaman, dan mencintai lingkungan. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) diterapkan agar siswa tidak hanya memahami konsep pelestarian lingkungan secara teoritis, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkannya secara langsung.
Tim pengabdian UPY dipimpin oleh Ketua Program Studi PPG FKIP UPY sekaligus Ketua Pengabdian, Dr. Dhiniaty Gularso, S.Si., M.Pd., bersama anggota tim dosen Rian Nurizka, M.Pd. dan Dr. Muhardila Fauziah, M.Pd. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa PPG UPY, yakni Surya Dwi Armada, Wida Dien Ramadhan, Fania Nuranisa, Syintia Zahra Oktaviani, dan M. Rifki Ardiansyah.
Pelaksanaan kegiatan mendapat sambutan dan dukungan dari Kepala Sekolah SIKK, Sahyuddin, S.Pd., MA TESOL, sebagai bagian dari upaya bersama membangun pembelajaran yang bermakna dan menumbuhkan karakter peduli lingkungan pada peserta didik.
Salah satu kegiatan utama dalam workshop ini adalah praktik pembuatan ecoprint, yakni teknik menghasilkan motif pada kain dengan memanfaatkan bentuk dan karakter alami tumbuhan. Dalam kegiatan tersebut, siswa menggunakan kaos polos bekas sebagai media berkarya serta memanfaatkan beragam tumbuhan yang tersedia di sekitar lingkungan sekolah.
Beberapa jenis tumbuhan yang digunakan antara lain kitolod, meniran, anting-anting, rumput mutiara, bayam duri, rumput teki, dan tapak liman. Tumbuhan tersebut dimanfaatkan sebagai sumber motif untuk menghasilkan karya yang memiliki karakter unik.
Pemanfaatan kaos bekas menjadi bagian penting dari pembelajaran. Siswa diajak memahami bahwa barang yang sudah tidak digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Dengan kreativitas dan pengolahan yang tepat, barang tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.
Pesan tersebut sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yaitu mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, dan mendaur ulang material menjadi produk yang bermanfaat.
Dalam proses pembuatan motif, siswa menggunakan teknik penyemprotan cairan pemutih pakaian secara terarah. Pelaksanaannya memperhatikan prosedur keselamatan kerja, termasuk penggunaan sarung tangan plastik dan masker pelindung, dengan pendampingan selama kegiatan berlangsung.
Melalui praktik tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar yang memadukan kreativitas, keterampilan motorik, pemanfaatan sumber daya, dan kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Workshop ecoprint tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga pada proses pembelajaran yang menyertainya. Ketika memilih tumbuhan, menata motif, dan memanfaatkan kembali kaos bekas, siswa mendapatkan kesempatan untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Pendekatan experiential learning memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui pengalaman, mengamati hasil, serta merefleksikan manfaat tindakan sederhana bagi lingkungan. Dengan cara ini, konsep kecerdasan ekologis diperkenalkan melalui aktivitas yang konkret dan sesuai dengan pengalaman belajar anak usia sekolah dasar.
Kegiatan ini juga mendorong interaksi dan kerja sama antarsiswa. Proses berkarya bersama memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi ide, menghargai kreativitas teman, serta menyelesaikan tahapan kegiatan secara kolaboratif.
Berdasarkan evaluasi melalui pre-test dan post-test, kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa mengenai konsep pelestarian lingkungan. Antusiasme siswa selama proses berkarya secara kolaboratif juga menjadi bagian dari pengalaman positif yang muncul dalam pelaksanaan workshop.
Hasil tersebut menjadi indikasi bahwa pembelajaran lingkungan melalui praktik kreatif dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendekatkan konsep ekologi kepada siswa sekolah dasar. Meski demikian, pembiasaan perilaku peduli lingkungan tetap memerlukan penguatan dan praktik berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Program Studi PPG FKIP UPY, kegiatan ini menjadi wujud pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu pendidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam satu tim juga memberikan ruang pembelajaran bagi calon guru untuk mengembangkan pengalaman merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pendidikan secara langsung. Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat kompetensi pedagogik sekaligus membangun kepekaan calon pendidik terhadap isu lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
Pelaksanaan workshop di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu turut memperluas ruang kolaborasi pendidikan antara UPY dan satuan pendidikan Indonesia di luar negeri. Melalui kegiatan semacam ini, perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam menghadirkan inovasi pembelajaran sekaligus memperkuat nilai karakter yang relevan dengan kehidupan peserta didik.
Melalui Workshop Ecoprint untuk Meningkatkan Keterampilan Ekologi Siswa Sekolah Dasar, PPG FKIP UPY berharap semangat mencintai lingkungan dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan sejak dini. Memanfaatkan kembali barang bekas, mengenali tumbuhan di sekitar, dan berkarya dengan bijak menjadi langkah kecil yang dapat membentuk cara pandang anak terhadap lingkungan.
Sebab, pendidikan lingkungan tidak hanya tentang mengenalkan pentingnya menjaga alam, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam merawatnya. Dari sebuah kaos bekas dan dedaunan di sekitar sekolah, siswa belajar bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap bumi.
